SEJARAH SINGKAT
DAYA MAHASISWA SUNDA
1.1 Latar Belakang
Situasi politik dalam negeri tahun 1950 memberikan dampak yang besar bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Sistem pemerintahan parlementer sarat pergantian kabinet yang cepat dalam kurun waktu enam tahun menunjukan instabilitas politik dalam negeri.
Ketidakharmonisan yang terjadi antar partai politik dalam parlemen mengundang reaksi dari masyarakat luas. Ketidakharmonisan partai politik ditunjukan dengan mosi-mosi yang diberikan pada pemerintahan parlementer yang berkuasa.
Perdana menteri pada setiap periode kepemimpinan rata-rata memimpin satu tahun, karena mosi tidak percaya dan langkah-langkah kebijakan yang dianggap salah oleh parlemen secara umum bahkan tidak jarang kabinet dijatuhkan oleh partai sendiri.
Kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil oleh pemerintah daerah, juga menjadi penyebab tidak bertahan lamanya pemerintahan yang berkuasa. Kebijakan yang ada terutama mengenai perimbangan anggaran bagi daerah.
Gerakan-gerakan di daerah dimunculkan oleh kaum muda daerah yang berusaha untuk menegakan kesejahteraan masyarakat daerah di bawah pemerintahan yang berdaulat dan merdeka. Pergerakan pemuda di Indonesia di awali dengan adanya kongres pemuda Indonesia tahun 1928 yang melahirkan sumpah pemuda. Ternyata perjuangan pemuda Indonesia tidak cukup sampai mencetuskan sumpah pemuda, tapi terlebih lagi pemuda yang mengatasnamakan Indonesia harus berusaha memajukan daerah sendiri.
1.2 Lahirnya Organisasi Damas
Di Jawa Barat, tahun 1952 menjadi tonggak pertama lahirnya organisasi pemuda yang berbasis kedaerahan. Muncul organisasi Mitra Sunda, lalu Nonoman Sunda, dan kemudian muncul organisasi-organisasi pemuda Sunda lainnya.
Organisasi pemuda berbasis Kesundaan tidak hanya lahir di Bandung, tetapi juga di Bogor, bahkan Jakarta. Penggerak organisasi pemuda di berbagai daerah di Jawa Barat adalah mereka yang berstatus mahasiswa.
Para mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat dan Jakarta memiliki suatu keinginan yang besar yaitu menginnginkan berdirinya suatu perguruan tinggi yang dapat dijadikan tempat menuntut ilmu bagi para pemuda Sunda.
Keinginan tersebut muncul karena mahasiswa yang menuntut ilmu di Fakultas Teknik dan Perguruan Tinggi Pendidikan guru yang berasal dari Jawa Barat yang merupakan tuan rumah sedikit.
Tahun 1956 muncul gagasan untuk mendirikan suatu organisasi pemuda Sunda yang dapat mewadahi organisasi-organisasi yang ada dalam sebuah organisasi yang berbasis mahasiswa di Jawa Barat. Usaha menuju pembentukan organisasi mahasiswa kemudian digulirkan oleh beberapa mahasiswa di Bandung. Hasilnya pada tanggal 14 Oktober 1956 berdiri sebuah organisasi mahasiswa yang berbasis mahasiswa Sunda dengan nama Daya Mahasiswa Sunda (Damas).
1.3 Perkembangan Organisasi Damas
Damas dalam kurun waktu 1956-1969 merupakan organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang politik, budaya, dan pendidikan. Bidang politik diterjuni sehubungan kondisi politik yang perlu dicermati dan dikritisi pada mas itu. Bidang budaya dicermati karena kecenderungan pemuda pada masa itu kurang perduli terhadap budaya daerah, sedangkan masalah pendidikan ditekuni karena tingkat kesadaran masyarakat pada waktu itu terhadap pendidikan khusunya budaya kurang.
Konsep penerimaan serta pengkaderan anggota baru mengalami perubahan, tahun 1956-1960 konsep pernerimaan hanya sebatas menggunakan metode diskusi. Setelah maraknya perploncoan di kampus-kampus, Damas ikut merubah konsep penerimaan serta konsep pengkaderan anggota baru.
Dalam kurun waktu 1956-1965 organisasi Damas hanya berada di Bandung, dalam artian kepengurusan serta keanggotaan baru terdapat di Bandung, lalu pada tahun 1965, lahir Damas Tasikmalaya. Munculnya Damas di kota lain tergantung permintaan dari mahasiswa yang ada di daerah bersangkutan.
Pada tahun 1969, Damas melebarkan sayap dengan munculnya Damas cabang Garut dan Jakarta. Untuk mampermudah koordinasi antara Damas yang berada di beberapa kota kemudian muncul organisasi Pusat atau Puseur Damas yang berkedudukan di Bandung dengan cabang-cabang Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Jakarta.
Lahirnya Puseur memungkinkan Damas lebih melebarkan sayap ke kota lainnya. Tahun 1976 muncul Damas Bogor, tahun 1985 bermunculan cabang-cabang di kota-kota Cirebon, Bekasi, Subang, Sumedang, Purwakarta, Ciamis, dan Sukabumi. Tahun 1988 muncul Damas Cianjur.
Pada perkembangan organisasi Damas di Bandung lebih banyak pergerakannya terutama dalam politik dan budaya, bukan berarti di luar kota Bandung tidak ada kegiatan tetapi Damas Bandung lebih dikenal dibanding Damas yang ada di luar kota Bandung.
Kegiatan-kegiatan seperti perlombaan Kabaya Endah, Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran, Drama Komedi Rakyat, Kawinan Senapati, Lomba Kereta Peti Sabun, Sepeda Santai, Pemilihan Raja Bendo dan Dyah Permata Pitaloka merupakan nilai jual bagi keberadaan Damas di Bandung.
Tahun 1999 merupakan titik terendah dalam sejarah perkembangan organisasi Damas. Hal ini tercermin dari tidak adanya penerimaan anggota baru, tidak adanya kegiatan di cabang Bandung sebagai barometer bagi cabang kota lain selain Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran yang merupakan program rutin dua tahun sekali. Secara organisasi tahun 1999 Damas mati suri. Tahun 2001 merupakan langkah baru organisasi Damas dalam melanjutkan pergerakannya.
Lapangan politik tentunya bukan hal yang dapat dipisahkan begitu saja dari Damas. Pada era 1980an dua nama pendiri Damas menjadi Bupati Daerah Tingkat II Cianjur, yaitu Adjat Sudradjat dan Arifin Joesoef. Jabatan lain yang pernah diemban yaitu Kepala BAPEDDA Jawa Barat oleh Arifin Joesoef. Memet H. Hamdan pernah menjabat sebagai sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, dan Yus Ruslan Ahmad sebagai Wakil Kepala Dinas Pertambangan Jawa Barat.
Nama-nama yang terjun dalam kancah politik sebagai birokrat bukan jaminan bagi Damas sebagai organisasi mahasiswa di Jawa Barat mendapat pujian dari masyarakat Sunda yang ada di Jawa Barat maupun yang ada di luar Jawa Barat. Popong Otje Djoendjoenan, Uu Rukmana, Cecep Rukmana, Lia Nur Hambali adalah aktivis organisasi Damas yang terjun ke dalam dunia politik praktis. Selain itu nama-nama Bubun Bunyamin, dan Misbach aktivis Tasikmalaya yang menjabat Walikota Tasikmalaya dan Bupati Sumedang. Molly Jubaedi pernah menjabat Walikota Sukabumi.
Beberapa aktivis juga ikut merumuskan visi dan misi jawa barat 2010, mereka diantaranya adalah Dudi Efendy, Soedrajat Tisnasasmita, Yus Ruslan Ahmad, dan Ubun Kubarsah. Organisasi Damas merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang masih bertahan dibanding organisasi-organisasi CSB, Mitra Sunda, Kujang Putra, dan Daya Nonoman Sunda.
1.4 Mimitran
Pola penerimaan anggota baru di Damas dinamakan Mimitran yang berarti mimiti mimitraan, yang artinya pertama kali berteman. Konsep yang ada mengalami perubahan sejalan dengan perubahan konsep penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus.
Mimitran terdiri dari tiga tahapan yang wajib dijalani oleh semua calon serta wajib dijalankan oleh Senat. Ketiga tahapan tersebut, yaitu:
1. Pra Mimitran, yaitu proses kampanye tentang keberadaan organisasi Damas sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang Kesundaan. Kampanye dilakukan di lingkungan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan calon mahasiswa atau mahasiswa baru. Isi kampanye berupa Kedamasan dan Kesundaan secara tidak langsung melalui media Pagelaran Kesenian Tradisional, dan olah raga Pencak Silat.
2. Mimitran, yaitu proses pelaksanaan Mimitran yang dikemas dalam suatu acara secara terperinci dan detail dengan dilaksanakan oleh suatu kepanitiaan khusus.
3. Pasca Mimitran, yaitu pembinaan anggota baru agar lebih mamahami keberadaan Organisasi
Damas baik fungsi maupun tujuannya di masyarakat.
Mimitran pada awal berdirinya Damas adalah menggunakan metode diskusi yang berlangsung dalam tiga hari saja. Bahan-bahan diskusi yang dijadikan acuan dalam Mimitran mencakup lima hal, yaitu:
1. Wawasan nusantara
2. Kesundaan secara umum, meliputi:
- Eksistensi Sunda di Indonesia
- Sejarah Sunda
- Tatakrama Sunda
- Apresiasi seni dan budaya Sunda
3. Kedamasan, meliputi:
- Sejarah berdirinya organisasi Damas
- Perkembangan organisasi Damas 1956-1960
- Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi Damas
- Hasil-hasil perjuangan organisasi Damas
- Masalah khusus yang mambahas kewanitaan di dalam adat Sunda
4. Organisasi umum/kemahasiswaan, meliputi:
- Kehidupan kemahasiswaan di indonesia
- Organisasi kepemudaan
- Latihan pidato dan diskusi
5. Keagamaan khusunya Islam
Keseluruhan acara dalam Mimitran adalah merupakan hiburan. Pagelaran seni dan budaya merupakan acara yang mendukung pada materi-meteri yang disampaikan dalam Mimitran.
Materi yang ditambahkan dalam diskusi-diskusi Mimitran yang dianggap perlu sebagai bahan dalam pergaulan dengan dunia luar organisasi Damas. Materi meliputi masalah politik, sosial budaya, dan ekonomi. Konsep Mimitran dengan metode diskusi bertahan sampai tahun 1960 yang kemudian organisasi Damas menyesuaikan diri dengan perkembangan konsep penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus.
Pada tahun 1961, setahun setelah pemberlakuan perploncoan di kampus-kampus organisasi Damas pun tak mau ketinggalan untuk merubah konsep Mimitrannya. Tidak tanggung-tanggung, Damas mengemas waktu dua minggu untuk penerimaan anggota barunya dengan jadual yang padat pula.
Setiap hari terdiri dari dua pertemuan, pertama jam lima sampai jam sembilan pagi, dan kedua jam empat sore sampai jam 12 malam. Materi yang disampaikan lebih banyak mengenai tata krama yang ada dalam adat Sunda. Selain tata karma, aturan-aturan yang ada dalam organisasi Damas menjadi materi yang wajib di ikuti oleh para calon.
Setelah berdirinya kepengurusan Puseur, konsep Mimitran yang diterapkan di semua cabang seragam. Tiga tahun pertama dalam kepengurusan Puseur, Mimitran semua cabang menginduk ke Cabang Bandung dalam konsep. Konsep yang kemudian dianggap ideal untuk dijadikan konsep Mimitran yang lebih menekankan sisi kebudayaan dilaksanakan pada tahun 1972.
Kusmayatna, Kusman, serta beberapa anggota yang merupakan aktivis organisasi terutama dalam pergerakan kebudayaan memasukan ide-ide baru yang kemudian membawa Mimitran Damas menjadi sebuah kegiatan yang ditunggu-tunggu bukan hanya oleh kalangan mahasiswa saja, tetapi juga oleh masyarakata bandung pada khususnya, dan masyarakat yang terdapat di kota-kota yang terdapat Cabang Damas.
Ide-ide yang dimasukan dalam konsep Mimitran tersebut antara lain pemilihan Senapati dan Senawati dengan menggunakan metode pagelaran kesenian, Kawinan Senapati yang disajikan dalam bentuk drama, Hajat Tujuh Bulanan dan Dunya Tibalik sebagai implementasi dari adat masyarakat Sunda dalam menjalani usia kandungan tujuh bulan, Ngabungbang yaitu acara yang dilaksanakan di alam terbuka atau berkemah, serta pemilihan Raja Bendo dan Dyah Permata Pitaloka.
A. PAPAGON HUSUS PANGURUS CABANG
(cecekelan)
Pikeun lancarna tugas-tugas di jero pangurus dina ngajalankeun pancen garapanana anu disusun sarta dirancang, diperlukeun ayana papagon husus nu jelas sarta tetela/tegas nu ngatur pangbagian tugas, tanggung jawab, sarta tata gawe paguyuban.
UD/URT dijieun cecekelan papagon husus Pangurus Cabang saperti nu katulis di handap ieu:
Pasal I
Papagon Husus Pancen Gawe Pangurus Cabang Ngawengku:
Ayat 1
Pangbagian tugas, wewenang organ/fungsionaris atawa aparat Pangurus Cabang
Ayat 2
Tata gawe Pangurus Cabang
Ayat 3
Tata tartib administrasi/sekretariat Pangurus Cabang
Ayat 4
Tata tartib sarta tata cara pangaluaran duit/dana Pangurus Cabang
Pasal II
Pangbagian Tugas, Wewenang Organ/Fungsionaris Aparat Pangurus Cabang.
Ayat 1
Sesepuh Umum:
a. Babarengan jeung Staf Pangurus Harian netepkeun kawijaksanaan Pangurus Cabang
b. Ngabogaan tanggung jawab kana sagala rupa kagiatan jeung tugas Pangurus Cabang
c. Ngoordinir langsung Staf sesepuh (I,II,III), Girang Serat, Panata Harta Pangurus Cabang
d. Ngawakilan Pangurus Cabang boh nu sifatna ka jero atawa ka luar Paguyuban
e. Mingpin Gempungan-gempungan Pangurus Harian, Pangurus Pleno, Pangurus Cabang jeung Rayon, pangurus cabang jeung anggota Damas cabangna.
f. Lamun perlu, bisa masrahkeun mandat pikeun ngalaksanakeun pancen gawe mandiri tur husus (contona Mandataris Mimitran, Mandataris B.P.A.A).
g. Pikeun kalancaran gawe pangurus Cabang, sawaktu-waktu Sesepuh Umum ngabogaan hak pikeun nyieun kawijaksanaan nu ngawengku masalah personalia, kawijakan, garapan-garapan jeung lian-lianna anu dianggap perlu.
h. Ngabogaan hak pikeun menta pertanggungjawaban saupama dianggap perlu ka Staf sesepuh, Girang Serat, panata Harta, bisa langsung ka Departemen-departemen, Lembaga-lembaga, Badan-badan nu aya di lingkungan Pangurus Cabang.
Ayat 2
Sesepuh I:
a. Ngoordinir koordinator I anu ngawengku Departemen Organisasi, Departemen Atikan jeung Kaderisasi sarta Badan/Lembaga anu jadi tanggung jawabna.
b. Ngabogaan hak pikeun nyekel kalungguhan, ngajalankeun tugas, fungsi salaku Sesepuh Umum saupama Sesepuh Umum aya halangan.
c. Ngabogaan tanggung jawab langsung kana sagala rupa kagiatan Departemen-departemen anu kasebut dina ayat a) di luhur
d. Ngabogaan hak pikeun mingpin gempungan koordinasi Departemen kalayan merhatikeun kawijaksanaan anu geus digariskeun. Sarta bias menta pertanggungjawaban langsung atawa sawaktu-waktu upama dianggap perlu ti Departemen nu jadi tanggung jawabna.
e. Mere laporan sacara maneuh jeung sawaktu-waktu upama dianggap perlu dina gempungan sapopoe (Gempungan Pangurus Harian). Gempungan Pangurus Pleno, tina sagala kagiatan anu jadi tanggung jawabna.
Ayat 3
Sesepuh II:
a. Ngoordinir koordinator II anu ngawengku Depertemen Bewara, Departemen Pangabdian Masarakat, Departemen Santika, sarta Badan/Lembaga anu jadi tanggung jawabna.
b. Ngabogaan hak pikeun nyekel kalungguhan, ngajalankeun tugas/fungsi salaku Sesepuh Umum, atawa salaku Sesepuh I, saupama anu kasebut tiheula aya halangan.
c. Ngabogaan tanggung jawab langsung kana sagala rupa kagiatan Departemen-departemen anu kasebut dina ayat a) di luhur
d. Ngabogaan hak pikeun mingpin gempungan koordinasi departemen kalayan merhatikeun kawijaksanaan anu geus digariskeun. Sarta bias menta pertanggungjawaban langsung atawa sawaktu-waktu upama dianggap perlu ti Departemen-departemen anu jadi tangung jawabna.
e. Mere laporan sacara maneuh jeung sawktu-waktu upama dianggap perlu dina Gempungan pangurus Harian, Gempungan Pangurus Pleno, tina sagala kagiatan anu jadi tanggung jawabna.
Ayat 4
Sesepuh III:
a. Ngoordinir koordinator III anu ngawengku Departemen Kania, Departemen Seni Budaya, sarta Badan/Lembaga anu jadi tanggung jawabna.
b. Ngabogaan hak pikeun nyekel kalungguhan, ngajalankeun tugas/fungsi salaku Sesepuh Umum, atawa salaku Sesepuh I, atawa salaku Sesepuh II, saupama anu kasebut tiheula aya halangan.
c. Ngabogaan tanggung jawab langsung kana sagala rupa kagiatan Departemen-departemen anu kasebut dina ayat a) di luhur.
d. Ngabogaan hak pikeun mingpin gempungan koordinasi departemen kalayan merhatikeun kawijaksanaan anu geus digariskeun. Sarta bias menta pertanggungjawaban langsung atawa sawktu-waktu upama dianggap perlu ti Departemen-departemen anu jadi tanggung jawabna.
e. Mere laporan sacara maneuh jeung sawaktu-waktu upama dianggap perlu dina Gempungan Pangurus Harian, Gempungan Pangurus Pleno, tina sagala kagiatan anu jadi tanggung jawabna.
Ayat 5
Girang Serat Umum:
a. Ngoordinir, miara sarta ngabogaan tanggung jawab kana sagala kalancaran sekretariat Pangurus Cabang, salaku puseur sakabeh aktipitas jeung/atawa puseur komunikasi anu sifatna ka jero jeung ka luar Pangurus Cabang.
b. Marengan jeung ngabantu Sesepuh Umum dina miara lancar jeung hirup harmonisna Paguyuban di tingkat Cabang.
c. Ngoordinir sarta ngabagi tugas jeung garapan di antara Staf Sekretariat (Girang Serat I jeung II) Pangurus Cabang.
d. Ngabogaan tanggung jawab kana kalancaran pancen gawe Kasekretariatan Pangurus Cabang, sarta ngabagi tanggung jawab di antara Staf Girang Serat, ngawengku garapan-garapan:
- Surat-sinurat
- Dokumentasi
- Klipping/Arsip
- Notulensi Gempungan
- Miara hubungan jeung Rayon-rayon, Lembaga, Badan, jeung lian-lianna anu perlu di lingkungan Cabang.
Ayat 6
Girang Serat I:
a. Ngabantuan Girang Serat Umum dina kalancaran pancen gawe jeung kagiatan Paguyuban/Kasekretariatan Pangurus Cabang.
b. Ngabogaan hak/bisa ditunjuk ku Sesepuh Umum pikeun nangkes tugas jeung fungsi Girang Serat Umum, saupama anu disebut tiheula aya halangan atawa keur teu aktif.
c. Ngabogaan pancen husus marengan Sesepuh I,II,III dina fungsina salaku Girang Serat.
d. Ngabogaan tanggung jawab kana hasil notulensi Gempungan Koordinasi.
e. Ngabantu Girang Serat Umum dina hal distribusi uleman Gempungan (Gempungan Harian jeung Pleno) Pangurus Cabang.
Ayat 7
Girang Serat II:
a. Ngabantu Girang Serta Umum dina kalancaran pancen gawe Paguyuban/Kasekretariatan Pangurus Cabang.
b. Ngabogaan hak/ditunjuk ku Sesepuh Umum pikeun nangkes tugas jeung fungsi Girang Serat Umum, atawa Girang Serat I, saupama anu disebut tiheula aya halangan atawa keur teu aktif.
c. Ngabogaan tanggung jawab kana notulensi Gempungan (Gempungan Harian, Gempungan Pleno, jeung Gempungan Anggota).
d. Ngabogaan tanggung jawab kana klipping/arsip/dokumentasi kagiatan Pangurus Cabang anu sifatna saluareun jeung sajeroeun Cabangna.
e. Ngabogaan tanggung jawab kana barang inventaris/administrasi/kasekretariatan milik Cabangna.
f. Ngabogaan tanggung jawab dina miara kabersihan, karapihan, jeung katartiban gedong Sekretariat Cabangna.
Ayat 8
Panata Harta Umum:
a. Ngbogaan tanggung jawab dina ngokolakeun harta Paguyuban anu di jerona kaasup duit kalayan diatur ku aturan anu geus ilahar (profesional). Boh anu aya dina Rekening Bank atawa dina Kas.
b. Babarengan jeung Sesepuh Umum ngatur, ngawaskeun, atawa nyieun anggaran (kaasup nyieun neraca keuangan Pangurus Cabang) anu sawaktu-waktu bias dilaporkeun ka pangurus atawa anggota saupama dianggap perlu.
c. Nyieun rarancang sarta ngusahakeun sumber dana pikeun kaperluan waragad kagiatan di tingkat Cabang kalayan disaluyuan ku Sesepuh Umum.
d. Nyutat, ngatur sarta neundeun sakebeh dana dina Rekening Bank atawa dina Kas, kalayan salawasna saupama ngaluarkeun duit boh ti Bank atawa tina Kas kudu aya tanda tangan Sesepuh Umum jeung Panata Harta Umum.
e. Nyadiakeun jeung ngaluarkeun dana anu samemehna geus disaluyuan ku Gempungan Pangurus Harian, atawa Gempungan Pangurus Pleno pikeun kaperluan kagiatan Pangurus Cabang anu luyu jeung kabutuhan program anu geus ditangtukeun.
f. Neundeun sarta ngaluarkan dana pikeun kaperluan sekretariat sarta Staf Girang Serat, jeung keur waragad miara Sekretariat Cabangna.
g. Nyusun jeung neundeun daftar donetur sakabeh anggota jeung alumni anu aya di lingkungan Cabangna.
Ayat 9
Panata Harta I:
a. Ngabantu Panata Harta Umum dina ngalancarkeun tugas-tugasna salaku Panata Harta Pangurus Cabang.
b. Mancen tugas ngurus, nyutat, sarta miara harta kakayaan maneuh jeung teu maneuh anu aya di Cabangna.
c. Mancen tugas ngurus dana husus pikeun waragad kagiatan unggal Departemen.
d. Mancen tugas narima, neundeun, sarta miara duit tina usaha sah anu diayakeun ku Pangurus Cabang (kaasup tina Iuran Anggota Cabangna).
e. Mikeun laporan sacara maneuh ka Panata Harta Umum pikeun dibukukeun sakabeh duit nu asup jeung kaluar anu jadi tanggung jawabna.
f. Nangkes kalungguhan jeung tanggung jawab Panata Harta Umum saupama anu dimaksud aya halangan atawa teu bias aktif saheulaanan, kalayan panyaluyuan Sesepuh Umum.
Ayat10
Panata Harta II:
a. Ngabantu Panata harta Umum dina ngalancarkeun tugas Kapanatahartaan Pangurus Cabang.
b. Mancen tugas ngurus sarta ngatur dana/waragad husus pikeun kaperluan kagiatan di Cabang anu sifatna insidentil (kapanitiaan husus) anu dilaksanakeun sanggeusna meunang Mandat ti Pangurus Cabang.
c. Mancen tugas ngawas, sarta mariksa Panata Harta kapanitiaan anu diwangun sanggeusna meunang Mandat ti Pangurus Cabang.
d. Ngabantu Panata Harta Umum jeung Panata Harta I.
e. Nangkes kalungguhan jeung tanggung jawab Panata Harta Umum, atawa Panata Harta I saupama anu dimaksud aya halangan, atawa teu bias aktif saheulaannan, kalayan panyaluyuan Sesepuh Umum.
Ayat 11
Koordinator Departemen-departemen:
a. Koordinator Departemen ditunjuk jeung diangkat ku Sesepuh Umum Pangurus Cabang, sarta henteu kaasup Pangurus Harian.
b. Mgabogaan hak ngawangun anggota Departemen luyu jeung kabutuhan di Departemen, kalayan disaluyuan ku Sesepuh Widangna.
c. Mancen tugas jeung tanggung jawab ngalaksanakeun kagiatanana luyu jeung anu geus diguratkeun dina program kagiatan Pangurus Cabangna.
d. Diwenangkeun ngayakeun gempungan di Departemen kalayan dipingpin ku Koordinator Departemen.
e. Bias ngayakeun gawe bareng antar Departemen di Cabangna kalayan panyaluyuan Sesepuh Widangna, sarta saupama ngayakeun kagiatan ka luar Paguyuban kudu meunang panyaluyuan ti Sesepuh Umum Cabangna.
Pasal III
TATA GAWE PANGURUS CABANG
Ayat 1
Gempungan-gempungan resmi anu aya di tingkat Cabang disaluyukeun jeung struktur sarta mekanisme anu aya kalayan nyekel pedoman kana Ugeran Dasar Bab VII Pasal 17, Ugeran Rumah Tangga Bab IV ngeunaan Gempungan.
Nyaeta anu tingkatanana saperti di handap ieu:
Ayat 2
Gempungan Pangurus Harian:
a. Diluuhan sakurang-kurangna dua (2) Sesepuh, dua (2) Girang Serat, dua (2) Panata Harta.
b. Gempungan dipingpin ku Sesepuh Umum kalayan dibantu ku Girang Serat Umum (saupama aya halangan bisa ku Girang Serat I atawa Girang Serat II)
c. Berita Acara hasil Gempungan kudu ditawis ku Sesepuh jeung Girang Serat Gempungan, kaasup absensi hadirna.
d. Jejer dina Gempungan ieu ngabahas masalah-masalah anu husus, saperti masalah Kapanatahartaan (neraca keuangan), mutuskeun program nu di luar rencana (sifatna ngadadak/penting) boh ka luar atawa ka jero Cabangna, masalah disiplin Pangurus.
e. Dilaksanakeun sakurang-kurangna sabulan sakali.
f. Bias ngulem individu (anggota atawa alumni) saupama dianggap perlu dina Gempungan.
Ayat 3
Gempungan Pangurus Pleno
a. Diluuhan ku sakurang-kurangna dua (2) Sesepuh, dua (2) Girang Serat, dua (2) Panata Harta, sarta opat (4) Koordinator Departemen ditambah ku wawakil ti Lembaga Maneuh nu aya di tingkat Cabang.
b. Ngaluarkeun uleman resmi/dines anu ditawis ku Sesepuh Umum sareng Girang Serat Umum, sarta uleman kasebut kudu katarima ku sakumna Pangurus selat-elatna sapoe saacan Gempungan lumangsung.
c. Gempungan Pleno dipingpin ku Sesepuh Umum jeung dibantu ku Girang Serat Umum (saupama aya halangan bias diwakilan ku Girang Serat I atawa Girang Serat II).
d. Absensi hadir kudu dieusian ku sakumna Pangurus anu hadir sarta ditawis ku Sesepuh Umum jeung Girang Serat Umum.
e. Girang Serat samemehna geus nyiapkeun rarancang Tata Tartib Gempungan jeung Materi anu bakal dibahas dina Gempungan.
f. Sakabeh hasil Gempungan kudu dinotulasi sarta dijieun Berita Acarana ku Girang Serat Gempungan anu ditawis ku Sesepuh Gempungan. Sarta saupama dianggap perlu Departemen Humas Penerangan kudu ngabewarakeun hasil Gempungan ka sakumna anggota sakurang-kurangna hasil Gempungan ditempelkeun dina papan pengumuman, sarta Girang Serat mere tembusan ka Pangurus Puseur.
g. Gempungan Pangurus Pleno ieu sakurang-kurangna kudu dilaksanakeun tilu (3) bulan sakali,
Ayat 4
Gempungan Anggota:
a. diayakeun sakurang-kurangna dua (2) taun sakali, luyu jeung mangsa lila kapangurusan Pangurus Cabang, sakalian mungkas kapangurusan dina Pertanggungjawaban Pangurus Cabang jeung milih Sesepuh Umum Pangurus Cabang mangsa nu bakal datang.
b. Salian ti wangunan pikeun Laporan Pertanggungjawaban Kapangurusan tingkat Cabang sarta milih Sesepuh Umum Pangurus Cabang anu bakal datang, Gempungan Anggota oge bisa dilaksanakeun pikeun kapentingan anu sifatna darurat/genting, boh anu patali jeung hirup huripna Paguyuban (hususna tingkat Cabang), atawa anu patali jeung laku lampah anggota atawa alumni, atawa pangurus Cabang anu nyata-nyata ngarugikeun ngaran Paguyuban boh ka jero atawa ka luar. Anu alpukahna (inisiatifna) bias jolna ti Pangurus atawa ti Anggota Cabangna, kalayan sakanyaho Pangurus Puseur.
c. Diluuhan ku sakurang-kurangna hiji Sesepuh, hiji Girang Serat, hiji Panata Harta, dua (2) Koordinator Departemen, sarta disaluyuan ku Anggota anu hadir harita (URT Bab IV Pasal 18).
d. Aya Tata Tartib Gempungan sarta Jadual Acara anu disaluyuan ku Gempungan.
e. Kacindekan Gempungan dijieun dina hiji Berita Acara anu ditawis ku Pimgpinan sarta Girang Serat Gempungan ( Sesepuh Umum jeung Girang Serat Umum), kaasup Daftar Hadir Gempungan.
f. Pangurus wajib ngulem Anggota saloba-lobana, saupama dianggap perlu nyieun uleman dina media Surat Kabar.
B. PAPAGON HUSUS NGEUNAAN RAYON
BAB I
Maksud jeung Tujuan
Pasal 1
Nudimaksud rayon papagon ieu nyaeta; Lingkungan padumukan anggota Daya Mahasiswa Sunda di Cabangna jeung sabudeureunnana anu dibagi ku rayon anu wates-watesna nyaeta;
Pasal 2
Dieusi ku wates-wates wilayah Rayon anu lumaku diunggal cabangna.
Pasal 3
Tujuan Rayon nyaeta :
a. Pikeun leuwih ngaraketkeun mimitran diantara anggota DAMAS
b. Mere kasempetan ka para anggota pikeun milu langsung nghalaksanakeun tujuan sarta usaha paguyuban umumna, program gawe Pangurus Cabang hususna.
c. Mere kasempetan anu leuwih gede ka para anggota pikeun ngayakeun kagiatan-kagiatan anu saluyu jeung kaayaan sarta kahayang para anggota.
BAB II
Pangurus Rayon
Pasal 4
Panguruas Rayon nyaeta aggota rayon anu dipapancenan ku Pangurus Cabang pikeun ngurus rayon masing-masing saperti anu geus ditetepkeun
Pasal 5
Status jeung kalungguhan Pangurus Rayon; pangurus rayon ngarupakeun leungeun panyambung Pangurus Cabangpikeun langsung milu ngalaksanakeun sakumna garapan paguyuban.
Pasal 6
Pangurus rayon bisa ngayakeun kagiatan dina jero lingkungan rayonna anu henteu papalimpang jauh jeung ugeran dasar-ugeran rumah tangga DAMAS, sarta program gawe Pangurus Cabang kalawan samemehna kudu menta ijin tertulis ka Pangurus Cabang.
Pasal 7
Kagiatan rayon kaluar lingkungan Paguyuban DAMAS teu diwenangkeung, kagiatan ieu sagemblengna dicekel ku Pangurus Cabang.
Pasal 8
Kagiatan pangurus rayon bisa mangrupa;
1. Kagiatan pikeun anggota DAMAS
2. Kagiatan husus pikeun anggota rayon
Pasal 9
Unggal rayon boga pangaping nyaeta anggota Pangurus Cabang anu ditunjuk ku Pangurus Cabang pikeun kaperluan eta
BAB III
Kaanggotaan Rayon
Pasal 10
Pangurus Rayon diwangun ku minimal 2 pupuhu, 2 Girang Serat, 2 Panata Harta, 1 Seksi-seksi anu diperlukeun
Pasal 11
Pangurus Rayon langsung diperbantukeun ka Pangurus Cabang saluyu jeung widangna masing-masing
Pasal 12
Pangurus rayon diwangun ku saurang atawa ku sababaraha urang formatur, dimana formatur-formatur ieu dipilih ku anggota Rayon dina gempungan anggota Rayon sarta Pangurus ieu disahkeun ku Pangurus Cabang
Pasal 13
Anu bisa dipilih jadi pupuhu rayon nyaeta anggota rayon anu geus cukup boga kanyaho ngeunaan kaayaan sarta kahirupan Paguyuban.
Pasal 14
Mangsa gawe Pangurus Rayon nyaeta 1 taun. Saelat-elatna 2 bulan saenggeusna rengse mangsa mimitran kudu geus kawangun Pangurus Rayon nu anyar.
Pasal 15
Samemeh rengse mangsa gawena, Pangurus Rayon henteu bubar upama Pangurus Cabang ngejatkeun kalungguhannana.
Pasal 16
Pangurus nu heubeul bisa dipilih deui pikeun jadi pangurus anyar.
Pasal 17
Pangurus Rayon bisa diganti atawa dieureunkeun ku Pangurus Cabang tina kalungguhannana salaku Pangurus Rayon lamun nyata-nyata aya tindakan anggota pangurus rayon anu ngarugikeun Rayon atawa DAMAS umumna, atawa teu bisa ngalaksanakeun kawajibannana.
Pasal 18
Gempungan Rayon bisa ngarupakeun;
1. Gempungan Pangurus Cabang jeung Pangurus Rayon
2. Gempungan Pangurus Rayon
3. Gempungan Anggota Rayon.
BAB IV
Kaanggotaan Rayon
Pasal 19
Anggota rayon nyaeta anggota DAMAS anu padumukannana aya dijero lingkungan Rayon anu geus ditetepkeun.
Pasal 20
Anggota rayon anu pindah padumukananan ka rayon sejen kudu bebeja ka Pangurus Cabang, ka Pangurus Rayon di tempat anu heubeul jeung Pangurus Rayon anu anyar.
Pasal 21
Anggota salahsahiji Rayon henteu diwenangkeun jadi anggota Rayon anu sejenna.
Pasal 22
Anggota Rayon diwenangkeun kagiatan/inisiatif sorangan, kalawan kudu ngabejaan heula ka pangurus Rayon/Pangurus Cabang.
Pasal 23
Anggota rayon boga hak ngaluuhan acara-acara Rayon hususna, acara paguyuban umumna; milih sarta dipilih jadi formatur pangwangunan Pangurus Rayon, ngalaksanakeun garapan Pangurus Rayon hususna sarta garapan Paguyuban umumna.
Pasal 24
Anggota Rayon anu geus miboga kanyaho kaayaan kahirupan DAMAS bisa dipilih jadi Pupuhu Rayon.
BAB V
Pancen Gawe Pangurus Rayon
Pasal 25
Milu ngalaksanakeun garapan Paguyuban, garapan gawe Pangurus Cabang hususna.
Pasal 26
Ngayakeun kagiatan ka jero anu saluyu jeung kaayaan sarta kahayang anggota Rayon dina raraga ngawangun Korps Daya Mahasiswa Sunda anu kuat jeung dinamis
Pasal 27
Pupuhu Rayon miboga pancen pikeun ngatur sagala kagiatan Rayonna sarta tanggung jawab sagemblengna ka Pangurus Cabang.
Pasal 28
Saelat-elatna saminggu sanggeus aya kagiatan Rayon kudu mere laporan gawe ka Pangurus Cabang
Pasal 29
Girang Serat Rayon ngan miboga hak pikeun ngaluarkeun surat-surat ka jero Rayonna jeung ka rayon-rayon sejenna dina jero lingkungan DAMAS, sarta kudu ngirimkeun tembusan ka Pangurus Cabang.
Pasal 30
Surat-surat kaluar lingkungan Paguyuban DAMAS sagemblengna dicekel kuk Pangurus Cabang
Pasal 31
Panata Harat Rayon kudu ngatur kakayaan Rayon, kalayan rayon mangrupa;
1. Sumbanagan ti Pangurus Cabang
2. Usaha-usaha Rayon sejenna anu kudu disaluyuan ku Pangurus Cabang.
Pasal 32
Panata Harta Rayon kudu mere katerangan saban waktu ngeunaan kakayaan Rayon ka Pangurus Cabang
Pasal 33
Garapan gawe Seksi Pangurus Rayon disaluyuan jeung program gawe Departemen anu aya di Pangurus Cabang, Departemen anu aya di Pangurus Cabang mangrupakeun koordinator kagiatan seksi-seksi anu aya di Rayon.
Pasal 34
Papagon ieu bisa dirobah/disampurnakeun ku Pangurus Cabang luyu jeung kabutuhan di unggal Cabangna ngaliwatan Surat Kaputusan.
C. PAPAGON HUSUS BADAN PANALINGAAN ANGGOTA ANYAR (B.P.A.A)
Pasal 1
N a g a n
Badan Panalingaan Anggota Anyar Daya Mahasiswa Sunda, disingget B.P.A.A..
Pasal 2
Maksud jeung Tujuan
1. Nuwuhkeun, ningkatkeun jeung ngabina rasa nyaah Anggota Anyar ka Paguyuban
2. nalingakeun jeung ngaping Anggota Anyar dina widang kamahasiswaan jeung kamasarakatan.
3. ngabina rasa duduluran jeung ningkatkeun kreativitas Anggota Anyar
4. Ngayakeun usaha-usaha sangkan tujuan pasal 2 ayat 1, 2, 3 diluhur bisa kahontal, saluyu jeung program Pangurus Cabang.
Pasal 3
P a n g u r u s
1. B.P.A.A. diwangun ku paling saeutik ; hiji pupuhu, hiji girang serat, 6 (genep) anggota pangurus.
2. a. Syarat pikeun jadi Pupuhu B.P.A.A.
- Palilng saeutik geus 2 (dua) taun jadi anggota DAMAS
- Sanggup ngaalankeun Program Pangurus Cabang
- Mampu sarta geus nembongkeun gawe nyata keur Paguyuban
- Dipilih, diangkat sarta tanggung jawab ka Pangurus Cabang
a. Girang Serat dipilih sarta diangkat ku Pupuhu B.P.A.A.
b. Syarat pikeun jadi anggota Pangurus B.P.A.A. :
- Mangrupa wakil ti unggal Rayon
- Dipilih, diangkat sarta ditangtukeun ku Pupuhu B.P.A.A.
2. Mangsa gawe Pangurus BPAA ti mimiti diangkat nepi ka Mangsa Mimitran anu pangdeukeutna, sarta dina digantina Pangurus Cabang henteu ngandung harti Pangurus BPAA oge kudu diganti. Iwal ti sapamenta Pangurus Cabang nu anyar.
3. saupama dianggap perlu sawaktu-waktu Pangurus Cabangna bisa ngeureunkeun/ngabubarkeun Pangurus BPAA sarta ngangkat Pangurus BPAA nu anyar pikeun gantina.
Pasal 4
Hak jeung Kawajiban
1. Pangurus BPAA boga hak pikeun ngayakeun/ngatur acara-acara keur Anggota Anyar, anu disaluyukeun jeung agenda kagiatan Pangurus Cabangna sangkan henteu pacorok waktuna.
2. pangurus BPAA wajib nyieun jeung mere laporan ngeunaan kagiatannana ka Pangurus Cabangna sakurang-kurangna 4 (opat) bulan sakali,
3. Pangurus BPAA wajib mere pangajen ngeunaan kagiatan unggal Anggota Anyar dina hiji buku Pangajen BPAA.
4. Hak anggota Anyar pikeun milu dina kagiatan Mangsa Mimitran nu pangdeukeutna ditangtukeun ku pangurus BPAA kalayan dasar titincakan tina buku Pangajen BPAA.
5. Saupama aya talajak Pangurus BPAA anu pasalia jeung ieu Papagon Husus wajib dipertanggungjaawabkeun ka Pangurus Cabangna, saelat-elatna 2 (dua) minggu sanggeusna kajadian
6. Pangurus BPAA bisa nyieun tanda/lancana husus sangkan dipikawanoh ku sakumna Anggota Anyar, kalayan dipasang sahandapeun lancana resmi Paguyuban.
Pasal 5
R o b a h a n
1. Saupama dianggap perlu ieu Papagon Husus bisa dirobah sarta disampurnakeun luyu jeung kabutuhan sarta kapentingan diunggal cabang ku Pangurus Cabangna.
2. Ieu Papagon Husus dikaluarkeun sarta dicabut make surat Kaputusan anu dikaluarkeun ku Pangurus Cabang numutkeun kabutuhan di Cabangna.
Pasal 6
P a n u t u p
Ieu Papagon Husus lumaku tisaprakna dikaluarkeun nepi ka waktu anu teu bisa ditangtukeun.
D. Tata Tartib Gempungan Resmi DiJero Paguyuban DAMAS
Anu disebut gempungan resmi dijero paguyuban dumasar kana ugeran rumah tangga Daya Mahasiswa Sunda BAB IV Pasal 16 tepi ka Pasal 20, nyaeta;
1. Sawala Luhung
2. Sawala Gawe
3. Gempungan Anggota
4. Gempungan Alumni
5. Gempungan Pangurus
1. Sawala Luhung
Tata Tartib dina sawala luhung ieu diluar upacara resmi anu sipatna seremonial, boh dina bubuka atawa pamungkas sawala luhung (Perelean upacara sesremonial ditulis dina bagian sejen dina ieu buku), sarta disusun pikeun cecekelan dasar pengurus Puseur jeung panitia palaksana (Organizing Commite) atawa panitia pangarah (Steering Commite), nyaeta;
a. Sarengsena upacara seremonial bubuka sawala luhung, dina waktu anu geus ditangtukeun samemehna, Pupuhu jeung Girang Serat panitia pangarah (SC) muka gempungan pleno ka 1 (hiji) sawala luhung anu diluuhan ku rengrengan pangurus puseur, utusan/pamilon cabang-cabang, paniten/peninjau tiunggal cabang-cabang, tim notulensi jeung dokumentasi/rekaman.
b. Acara dina gempungan Pleno ka I (hiji) ieu nyaeta;
1. Netepkeun jeung ngesahkeun jadwal acara sawala luhung
2. netepkeun jeung ngesahkeun tata tartib sawala luhung
3. netepkeun jeung ngesahkeun pupuhu jeung girang serat sawala luhung.
c. Gempungan Pleno ka I (hiji) sarta gempungan pleno sejenna umumna “tertutup”, iwal ti saumpamana gempunganmerlukeun nara sumber ti luar (anggota, alumni atawa individu saluareun DAMAS) pikeun kapentingan sawala luhung anu disaluyuan ku sakumna pamilon/peserta sawala luhung.
d. Sakumna pamilon sawala luhung (pangurus puseur, utusan cabang, paniten jst) salila mangsa sawala luhung boh sajeuroeun atawa saluareun gempungan/sidang dilingkungan sawala luhungwajib make atribut paguyuban luyu jeung kalungguhan masing-masing dipaguyuban.
e. Panitia palaksana (OC) wajib ngurus/nyadiakeun akomodasi, logistik, konsumsi jeung kabutuhan-kabutuhan persidangan kasakumna pamilon sawala luhung, ti samemeh sawala luhung nepi karengsena, sangkan sawala luhung bisa lumangsung lancar.
E. PERELEAN PROTOKULER UPACARA PAGUYUBAN
1. Sawala Luhung
a. Bubuka;
- Rengrengan Pangurus Puseur asup karohangan.
- Ngalagukeun Indonesia Raya anu diteruskeun kana Karatagan DAMAS.
- Ngaheningkeun cipta dipimpin ku sesepuh Puseur
- Laporan panitia palaksana sawala luhung
- Sambutan sesepuh umum pangurus puseur
- Sambutan sesepuh umum pangurus alumni
- Sambutan/pangjejer ti pajabat daerah tingkat I/ tingkat II (Saumpama aya) sakalian ngaresmikeun sawala luhung,
- Du’a
- Rengse/ramah tamah
b. Panutupan;
- Rengrengan manten pangurus puseur jeung rengrengan pangurus puseur nu anyar dipilih asup ka rohangan.
- Ngalagukeun Indonesia Raya anu diteruskeun kana Karatagan DAMAS.
- Ngaheningkeun cipta dipimpin ku sesepuh Puseur
- Laporan panitia palaksana sawala luhung
- Seren sumeren kapangurusan sacara simbolis ti manten sesepuh umum pangurus puseur ka sesepuh umum puseur anu anyar (mangrupa pamasrahan bandera DAMAS jeung berkas Surat)
- Sambutan sesepuh umum pangurus puseur nu anyar
- Pangbagea jeung pangwilujeung ti sesepuh umum pangurus alumni
- Du’a
- Rengse/ramah tamah
2. Milangkala/Diesnatalis (disalanggarakeun ku pangurus puseur);
- Rengrengan Pangurus Puseur asup karohangan.
- Ngalagukeun Indonesia Raya anu diteruskeun kana Karatagan DAMAS.
- Ngaheningkeun cipta dipimpin ku sesepuh Puseur
- Laporan panitia palaksana Milangkala/Diesnatalis DAMAS
- Orasi ilmiah dina raraga milangkala DAMAS anu dibacakeun ku sesepuh umum pangurus puseur.
- Sambutan sesepuh umum pangurus alumni
- Sambutan pajabat daerah tingkat I / tingkat II (Saumpama aya) anu samemehna geus dipenta pikeun mere sambutan.
- Du’a
- Rengse/ramah tamah
3. Milangkala/Diesnatalis di Cabang-cabang;
Dina prinsipna perelean acara sarua jeung anu diayakeun ku pangurus puseur, ukur diganti tingkatan hirarkina.
4. Mangsa Mimitran
a. Bubuka;
- Rengrengan Pangurus Cabang jeung rengrengan panitia mimitran asup karohangan.
- Ngalagukeun Indonesia Raya anu diteruskeun kana Karatagan DAMAS.
- Ngaheningkeun cipta dipimpin ku sesepuh Umum Pangurus Cabang
- Laporan Sesepuh Umum panitia Mimitran
- Sambutan sesepuh umum pangurus Cabang
- Upacara Simbolis ‘masrahkeun tanggung jawab’ ti sesepuh Umum Pangurus Cabang ka Sesepuh Umum Panitia mimitran, kumasrahkeun tumbak kujang ti sesepuh Umum Pangurus Cabang ka Sesepuh Umum Panitia mimitran.
- Upacara simbolis bubuka ‘mangsa mimitran’, kumasrahkeun kujang papasangan ka calon anggota (mojang jeung jalu) sarta masrahkeun atribut mimitran ku sesepuh Umum Pangurus Cabang jeung Sesepuh Umum Panitia mimitran.
- Du’a
- Rengrengan Pangurus Cabang jeung rengrengan panitia mimitran ninggalkeun rohangan.
b. Panutupan
- Rengrengan Pangurus Cabang jeung rengrengan panitia mimitran asup karohangan.
- Ngalagukeun Indonesia Raya anu diteruskeun kana Karatagan DAMAS.
- Ngaheningkeun cipta dipimpin ku sesepuh Umum Pangurus Cabang
- Laporan Sesepuh Umum panitia Mimitran
- Sambutan sesepuh umum pangurus Cabang
- Upacara Simbolis Tumbak kujang ti Sesepuh Umum Panitia mimitran ka sesepuh Umum Pangurus Cabang
- Ngistrenan anggota anyar (diwawakilan ku mojang jeung jajaka) ku muka iket/pita jeung atribut mimitran, sarta masangkeun lancana damas jeung masrahkeun piagam kaanggotaan, anu dilaksanakeun ku sesepuh umum pangurus Cabang jeung sesepuh umum panitia Mimitran.
- Anggota anyar anu geus diistrenan nembangkeun lagu angkatannana.
- Rengrengan Pangurus Cabang jeung rengrengan panitia mimitran ninggalkeun rohangan.
- Du’a
- Rengse/Ramah tamah
5. Kalengkepan-Kalengkepan Upacara
- Dijero rohangan upacara kudu ngawengku kalengkepan atauran anu dikaluarkeun ku pamarentah, nyaeta lambang Garuda Pancasila, Potret Presiden jeung Wakil Presiden RI.
- Bendera RI jeung Bandera DAMAS.
- Saumpama bisa make hiasan-hiasan nunambah suasana pantes katenjona.
- Leuwih alus dina lumangsungna upacara ake adaegan seni jeung budaya Sunda, nu henteu ngaganggu kana kahidmatan upacarana.
- Sakumna pangurus luyu jeung tingkatannana wajib make atribut upacara kapangurusan jeung pakean resmi/adat. Sarta anggota jeung alumni make lancana DAMAS.
- Sangkan rempegna anu hadir, pangurus/panitia wajib ngulem anggota jeung alumni saloba-lobana (saumpama dianggap perlu ngulem dina media surat kabar atawa TV).
F. HARTI LAMBANG, BANDERA, JEUNG SULUK DAMAS
1. HARTI LAMBANG DAMAS
a. Wangunan Juru Lima Mencos ka Handap nu Mangrupa Tameng; Nyaeta Pancasila, iwal ti jadi dasar Paguyuban oge mangrupa Dasar pikeun hirup kumbuhna paguyuban. Temeng oge ngebrehkeun DAYA tina kecap daya mahasiswa Sunda, anu ngabogaan harti kakuatan.
b. Bueuk; Lambang elmu pangaweruh. Ngebrehkeun MAHASISWA tina kecap Daya Mahasiswa Sunda.
c. Kujang Papasangan; Kujang mangrupa lambang Ki Sunda. Kujang Papasangan ngabogaan harti yen DAMAS diwangun ku Wanoja jeung Jajaka anu samartabat.ngebrehkeun SUNDA tina kecap daya Mahasiswa Sunda.
d. Buntut Bueuk Jumlahna 5 ; Hiji anu panjang (pangtengahna) hartina bilangan puluhan. Hiji buntut Bueuk anu panjang = 10 (sapuluh). Buntut anu pondok hartina bilangan hijian, aya opat. Jumlah tina buntut anu panjang + opat buntut pondok = 14 (opat welas). 14 (opat welas) ngebrehkeun tanggal diadegkaeunna Paguyuban.
e. 10 (Sapuluh) Liang Kujang; Hartina bulan kasapuluh (Oktober), ngebrehkeun bulan diadegkeunna Paguyuban.
f. 11(sabelas) titik dina Awak Bueuk; 11 (sabelas) ngarupakeun jumlah tina angka lima jeung genep (56), ngebrehkeun taun diadegkeunna Paguyuban (taun 1956).
g. Monogram Winangun H jeung W Handapeun Bueuk, sarta Titik Handapeun Monogram; Tandaning tekadna Paguyuban, pengkuh kana pamadegan pikeun ngahontal tujuanana, nyaeta Ngangkat Harkat Darajat Ki Sunda.
Lian ti eta oge mangrupakeun cirri nu mandiri ti Kang Hidayat Wiradikarta salaku anu nyiptakeun ieu Lambang, diebrehkeun dina monogram anu mangrupa aksara H jeung W.
2. BANDERA DAMAS
Warna Hejo di Luhur; Tanda subur ma’murna Tanah Pasundan.
Warna Hideung di Handap; Tanda kalanggengan paguyuban (abadi).
Warna Bodas Perak (Aksara & Lambang); Tanda kasucian.
3. SULUK
“Elmu Luhung kasakti Diri”
ngudag pangaweruh saluhur-luhurna pikeun kakutan diri sorangan sangkan bisa ngahontal kajembaran jeung karaharjaan Ki Sunda.
G. TATA LAKSANA ORGANISASI
Catetan :
- Di tingkat Cabang teu diwenangkeun ngawangun lembaga kabudayaan. Lembaga Kabudayaan di tingkat Cabang otomatis jadi Departemen Seni Budaya Pangurus Cabang.
- Alumni ngarupakeun hiji badan pikeun ngontrol jeung nalingakeun gerak lengkahna Pangurus Puseur.
H. TATIB ORGANISASI
1. Hirarki Kapamingpinan di Pangurus Puseur
a. Urutan-urutan hirarki diatur saperti di handap ieu:
1. Sesepuh Puseur
2. Sekretaris Jenderal
3. Sekretaris Widang Organisasi
4. Sekretaris Widang Kaderisasi
5. Sekretaris Widang Panerangan/Hubungan Masarakat
6. Sekretaris Widang Seni Budaya
7. Sekretaris Widang Kapanatahartaan
b. Sesepuh Puseur babarengan jeung Sekretaris Jenderal bisa mawa sora Paguyuban sacara langsung.
c. Anggota-anggota Pangurus Puseur sejenna bisa mawa sora Paguyuban kalawan make mandat atawa ngaliwatan Sekretaris Panerangan/Humas.
d. Dina kaayaan darurat/aya halangan, otomatis hirarki kapamingpinan di luhur bisa dilaksanakeun.
2. Kapangurusan.
- Sesepuh Pangurus Cabang jeung Sesepuh umum Pangurus Puseur diusahakeun boga status mahasiswa.
- Kudu geus ngaliwatan tahapan-tahapan kaderisasi di Paguyuban.
3. Kaanggotaan.
a. kartu Anggota dikaluarkeun ku Pangurus Cabang, ditawis ku Sesepuh Pangurus Cabang jeung Girang Serat Pangurus Cabang.
Catetan:
- wangunan kudu seragam sarta ditangtukeun ku Pangurus Puseur.
- Kartu Anggota sah ti mimiti dikaluarkeun nepi ka Anggota leungit hak-hak Kanggotaan.
- Ngagantina bisa dilaksanakeun dina herregistrasi Anggota jeung waktu-waktu Mimitran lumangsung.
Nomer Anggota make system tujuh angka:
Angka ka-1, ka-2 : Nomer Cabang
Angka ka-3, ka-4 : Taun Angkatan
Angka ka-5 nepi ka-7 : Nomer Anggota perangkatan di Cabang masing-masing
Nomer-nomer Cabang:
01 = Cabang Kota Bandung
02 = Cabang Kabupaten Tasikmalaya
03 = Cabang Kabupaten Garut
04 = Cabang DKI Jakarta
05 = Cabang Kota Cirebon
06 = Cabang Kota Bogor
07 = Cabang Kabupaten Bandung
08 = Cabang Kabupaten Bogor
09 = Cabang Kabupaten Cianjur
10 = Cabang Kabupaten Purwakarta
11 = Cabang Kabupaten Ciamis
12 = Cabang Kota Sukabumi
13 = Cabang Kabupaten Sukabumi
14 = Cabang Kabupaten Subang
15 = Cabang Kabupaten Sumedang
16 = Cabang Kabupaten Bekasi
17 = Cabang Kotamadya Cirebon
conto: Anggota No. 0169142
Hartina Anggota DAMAS Cabang Kotamadya Bandung Angkatan 1969
Nomer anggota per-angkatan nyaeta 142.
b. Daptar Anggota
Unggal aya Panarimaan Anggota Anyar atawa herregistrasi, hasilna (daftar) kudu dilaporkeun ka Pangurus Puseur.
c. Kondite Anggota
Unggal Cabang kudu mere laporan sataun sakali ka Pangurus Puseur ngeunaan Anggota-anggota anu aktip jeung gede pisan katineungna ka Paguyuban.
4. Alumni
Pikeun alumni, geus dijieun Papagon Husus ngeunaan Alumni
6. Upacara-upacara Resmi Paguyuban.
a. Upacara Mieling Dies natalis 14 Oktober
Dilaksanakeun ku Pangurus Puseur jeung Cabang-cabang di hiji tempat anu ditangtukeun ku Pangurus Puseur Pleno.
Cabang dianjurkeun ngayakeun acara-acara sejenna dina raraga mieling Dies Natalis Paguyuban.
Ngeunaan Dies Natalis cabang gumantung kana kawijakan Pangurus Cabang sewang-sewangan.
b. Seren-sumeren Pangurus Cabang
Seren-sumeren pangurus Cabang kudu diluuhan ku Pangurus Puseur kalawan Piagem seren-sumeren disahkeun ku Pangurus Puseur.
c. Seren-sumeren Pangurus Puseur.
d. Bubuka jeung Pamungkas Sawala Luhung.
e. Bubuka jeung Pamungkas Mimitran.
7. Tanda-tanda Resmi Paguyuban
a. Bandera Paguyuban : Tetep
b. Bandera Cabang : Tetep (sarua jeung Bandera Paguyuban) ditambah ku cirri Cabang anu digambarkeun dina tangtung tongkat luhur dimana ayana bandera, ku cirri tulisan ngaran Cabang handapeun dua Kujang pahareup-hareup, warna emas, warna tulisan hideung dina warna bodas.
c. Bandera Rayon : Diserenkeun kana kawijaksanaan Pangurus Cabang, tapi kudu aya lambing resmi Paguyuban.
d. Cap Paguyuban : Wangun cap pikeun Badan Maneuh nu aya di Paguyuban kudu aya kaserageman:
1. wangunna juru lima.
2. Di tengah wangunna aya Lambang Paguyuban teu make Tameng.
3. Di sakuriling Lambang poin dua aya tulisan Daya mahasiswa Sunda.
4. Di bagian handap sakuriling gambar Lambang aya tulisan Badan Maneuh anu aya di jero Paguyuban.
5. pikeun Badan-badan anu Teu Maneuh, make cap anu wangunna nurutkeun poin hiji, dua, tilu, jeung opat tapi di luareun gambar juru lima ditulis ngaran Badan anu Teu Maneuh kasebut.
6. pikeun realisasi aturan-aturan anu kasebut di luhur diserahkeun ka Pangurus Puseur.
Catetan:
Anu dimaksud badan-badan maneuh dina poin opat, nyaeta:
Pangurus Puseur
Pangurus Cabang
Korps Alimni
e. Kop Surat jeung Amlop Paguyuban
Kop Surat ; Pikeun badan anu Maneuh, make Kop Surat nurutkeun wangunna Kop Surat pangurus Puseur lila:
1. Lambang resmi Paguyuban diteundeun di juru lima Beulah kenca.
2. Make tulisan daya Mahasiswa Sunda anu wandana mandiri.
3. Dihandapeun tulisan Daya mahasiswa Sunda aya ngaran Badan Maneuh kasebut.
4. Dihandapeun poin dua jeung tilu aya gurat.
5. Dibagian handap kertas Kop Surat ditulisan Suluk Paguyuban anu wanda tulisananna mandiri.
6. Pikeun Badan-badan anu Teu maneuh, sacara umum wangun Kop Surat bisa nurutkeun wangun anu dipikahayang, tapi kudu ngawengku aturan-aturan:
a. Kudu aya Lambang resmi Paguyuban.
b. Kudu aya tulisan Daya Mahasiswa Sunda anu wandana mandiri.
c. Di handap kertas Kop Surat kudu ditulis Suluk Paguyuban anu wandana mandiri.
7. Amplop Kop Surat, wangunna saluyu jeung Kop Surat.
8. Pikeun realisasi aturan-aturan kasebut di luhur diserenkeun ka Pangurus Puseur.
f. Lencana
Lencana No. 1 : Lencana Paguyuban pikeun sakumna Anggota (anu dibagikeun ka Anggota Anyar sanggeusna Mimitran).
Lencana No. 2 : Lencana Harian Pangurus Cabang (bentuk Bueuk jeung kujang warna bodas dasar hejo).
Lencana No. 3 : Lencana Harian Pangurus Puseur (bentuk Bueuk jeung Kujang warna bodas dasar beureum).
Lencana No. 4 : Lencana Harian Staf Pangurus Puseur (saperti Lencana No. 3 tapi dasarna bulao).
Lencana No. 5 : Lencana Manten Pangurus Cabang (bentuk Bueuk jeung Kujang warna bodas tanpa dasar).
Lencana No. 6 : Lencana pangajen (bentuk Bueuk jeung Kujang tina emas).
8. Kapanatahartaan.
1. Iuran Anggota:
a. Gedena Iuran Anggota ti unggal Cabang ditangtukeun ku Pangurus Cabang.
b. 25 % tina jumlah duit anu katarima ku Pangurus Cabang dipasrahkeun ka Pangurus puseur.
2. Sawala Gawe, Sawala Luhung, jeung Dies Natalis Paguyuban:
a. Waragad sawala Gawe, jeung sawala luhung ditanggung ku pangurus Puseur babarengan jeung sakabeh Cabang.
b. Acara-acara sejenne dina raraga Mieling Dies Natalis dianjurkeun ka Cabang-cabang kalwan waragadna ditanggung ku Cabangna sewang-sewangan.
3. Donatur.
a. Cabang ngabogaan hak pikeun ngabogaan donatur anu aya di wilayah Cabang sewang-sewangan, sarta saha-saha nu jadi donatur kudu dilaporkeun ka Pangurus Puseur.
b. Cabang bisa ngabogaan donatur di wilayah luar Cabangna kalawan sakanyaho Pangurus Puseur jeung pangurus Cabang di wilayah Cabang kasebut.
Catetan; Anu dimaksud dina Sub. 3. b. ieu nyaeta pangurus maneuh jeung Pangurus teu maneuh anus ah ti Cabang.
c. Pangurus Puseur henteu diwenangkeun nyokot donatur-donatur Cabang anu dilaporkeun ku Pangurus Cabang ka Pangurus Puseur.
d. Anu ngayakeun hubungan ka luar sacara resmi nyaeta Pangurus Cabang jeung pangurus Puseur.
a. Hal-hal Sejenna.
Hal-hal sejenna anu can diatur dina katangtuan ieu bakal ditangtukeun ku Gempungan Pleno Pangurus Puseur.
A. Tugas Panerangan/Humas
1. Ngabewarakeun ngeunaan kagiatan paguyuban ka para Anggota Panguyuban jeung masarakat.
2. miara hubungan nu hade antara Anggota-anggota Paguyuban, antara Paguyuban Damas jeung organisasi atawa Lembaga sejenna. Oge ka masarakat silih kirim publikasi ucapan-ucapan, ngawilujengkeun, souvenir, jeung saterusna.
3. Neangan kamungkinan hubungan pikeun digawe babarengan jeung Organisasi-organisasi atawa Lembaga-lembaga sejenna, oge jeung masarakat.
B. Wangunan Media Publikasi Paguyuban.
a. Bulletin/Wawaran Cabang dilaksanakeun ku Cabang.
b. Majalah Panggeuing dikaluarkeun ku Pangurus Puseur sacara periodic.
c. Bulletin pikeun sawaktu-waktu dimana perlu.
d. Release/pernyataan dina media massa, umpamana surat kabar, majalah, radio, televisi, jeung saterusna.
C. Promosi Paguyuban.
Perlu ayana promosi Paguyuban.
D. Cara-cara Gawe Panerangan/Humas.
a. Cabang boga wewenang ngaluarkeun Bulletin/wawaran Cabang.
b. Cabang boga wewenang ngaluarkeun realease atawa ngeunaan kaayaan/kawijaksanaan umum di wilayahna sewang-sewangan salila teu papalingpang jeung kawijaksanaan Pangurus Puseur.
c. Majalah panggeuing dikaluarkeun ku pangurus Puseur, anu utamana pikeun konsumsi Anggota jeung Alumni.
d. Pangurus Cabang jeung Anggota Paguyuban bisa nyumbangkeun tulisan pikeun majalah Panggeuing anu sifatna saluyu jeung katangtuan-katangtuan anu aya.
e. Cabang diwajibkeun ngabantu panyalanggaraan majalah panggeuing dina widang Redaksi, tata Usaha, jeung Distribusi.
f. Cabang diwajibkeun ngirimkeun tembusan Bulletin/Realease nu dikaluarkeun ku Cabang ka pangurus Pusaeur jeung Personalia.
E. Pangwangunan Cabang-cabang Anyar.
Pangwangunan Cabang-cabang Anyar aya dina wewenang Pangurus Puseur.
"ELMU LUHUNG KASAKTI DIRI" NGUDAG PANGAWERUH SALUHUR-LUHURNA PIKEUN KAKUATAN DIRI SORANGAN SANGKAN BISA NGAHONTAL KAJEMBARAN JEUNG KARAHARJAAN KI SUNDA
Minggu, 23 Mei 2010
Sabtu, 15 Mei 2010
Balong keramat Darmaloka

Balong Kramat Darmaloka
Desa Darma, kecamatan Darma
Phone:
Fax:
Kuningan - Jawa Barat
More Information:
Balong keramat Darmaloka terletak di desa Darma, kecamatan Darma dan berada di tepi lintasan jalan Cirebon – Kuningan – Ciamis. Dari kota Kuningan jaraknya ± 13,5 km ke arah selatan atau ± 48 km dari kota Cirebon juga ke arah selatan. Konon Balong Keramat Darmaloka merupakan bekas peninggalan jaman Walisanga dalam rangka penyebaran agama Islam ratusan tahun yang lalu. Balong Keramat Darmaloka terdiri atas beberapa bagian yaitu : - Balong Ageung - Balong Bangsal - Balong Beunteur - Bale Kambang - Sumber Air Cibinuang Balong Kramat Darmaloka menempati areal seluas ± 3 Ha yang ditumbuhi pohon-pohon tropis yang rindang. Disini terdapat kolam yang dihuni oleh ratusan ikan kancra putih yang biasa disebut juga akan “DEWA”, (Ikan Dewa), luas kolam ±- 700M2. Konon kolam tersebut berbentuk lafad Qur'an. Selain itu terdapat tempat yang dikeramatkan berupa kuburan atau petilasan. Di komplek Balong Keramat Darmaloka terdapat makam Syekh Rama Gusti yang konon ditugaskan oleh Walisanga untuk menyebarluaskan agama Islam di daerah tersebut.
Facilities:
Balong Kramat Darmaloka is located in the village of Darma, Darma and district on the edge of the trail Cirebon - Kuningan - Ciamis. Its distance from the town of Kuningan ± 13.5 km to the south or ± 48 km from the town of Cirebon is also to the south. It is said Balong Darmaloka Keramat is a former relic in order Walisanga spreading of Islam hundreds of years ago. Sacred Balong Darmaloka consists of several parts, namely: - Balong Ageung - Balong Ward - Balong Beunteur - Bale Kambang - Source Water Cibinuang Balong Kramat Darmaloka occupied area of ± 3 Ha-tree lined tropical shade trees. Here there are ponds, inhabited by hundreds of white fish kancra also commonly called the "Gods", (fish god), large pond ± - 700M2. It is said that the pool is shaped lafad Qur'an. In addition there is a sacred place of the grave or petilasan. In the complex Balong Darmaloka Keramat is the tomb of Sheikh Rama is said Gusti assigned by Walisanga to propagate Islam in the region.
Sumber Referensi
www.infotempat.com
Ceurik Calon
Di imah kuring nu indung
Pujaan bapa pinasti
Da bongan lampah kaula
Seja rek sumerah diri
Rek dihideung rek di Bodas
Ceuceu akang anu masini
Rumasa kuring mah semah
Taya basa tuna harti
Di DAMAS estuning nyemah
Nganti asih ti pribumi
Hate kuring rek sumerah
Teu pisan nga bibisani
Penulis : Prima Respati
Ditulis dalam Sekar Damas
Pujaan bapa pinasti
Da bongan lampah kaula
Seja rek sumerah diri
Rek dihideung rek di Bodas
Ceuceu akang anu masini
Rumasa kuring mah semah
Taya basa tuna harti
Di DAMAS estuning nyemah
Nganti asih ti pribumi
Hate kuring rek sumerah
Teu pisan nga bibisani
Penulis : Prima Respati
Ditulis dalam Sekar Damas
Langganan:
Komentar (Atom)